Eko mengaku menulis buku tersebut karena ingin listrik tidak hanya dipahami dari infrastruktur kerasnya. Misalnya soal jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi), gardu induk, travo dan sebagainya.
Direksi PT PJB, Gong Matua Hasibuan menambahkan, dia menyambut baik diluncurkannya buku Jejak Listrik di Tanah Raja: Listrik dan Kolonialisme di Surakarta.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Desak Kepala Daerah Tiru Respons Cepat Walikota Langsa Tangani PJU Padam Demi Keamanan Masyarakat
Menurutnya, buku tersebut adalah buku pertama yang mencoba menjelaskan bisnis listrik. Selama ini, kata Gong, listrik konotasinya bisnis yang keras karena memakai mesin dan transmisinya tegangan tinggi.
"Ternyata ada bahasa yang lugas. Kami bisa menjelaskan kepada para pelanggan tentang apa yang kami hadapi selama ini," tuturnya. [Tio]