Direktur Utama PT Pertamina Power Indonesia Dannif Danusaputro menyoroti pelaku industri di Indonesia yang belum bisa lepas dari pemakaian energi fosil, meskipun dunia kini tengah beralih pada sektor energi baru terbarukan (EBT).
Dannif menilai, Indonesia belum akan bisa sepenuhnya lepas dari energi fosil dalam waktu dekat untuk mengurangi jumlah emisi karbon.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Energi Terbarukan dengan Beri Waktu 30 Tahun Perjanjian Jual Beli Listrik EBT ke PLN
"Transisi ini tidak akan terjadi dalam jangka waktu yang mepet. Jadi tidak akan terjadi dalam jangka waktu yang instan," ujar dia dalam sesi webinar, Rabu (8/12/2021).
Bahkan, ia memperkirakan, pembuangan emisi karbon tetap terjadi di Indonesia sampai 2060. Situasi ini berkebalikan dengan target pemerintah yang ingin mencapai net zero emission pada tahun tersebut.
"Kalau kita lihat, konsumsi fosil akan terus terjadi dan ada sedikit growth, tapi sangat landai. Sehingga akan terus ada emisi karbon, even sampai 2060," kata Dannif.
Baca Juga:
Tarif Listrik April 2025 Tidak Naik, Ini Alasannya!
Memitigasi hal tersebut, ia menyarankan pemakaian renewable energy perlu ditingkatkan di setiap kegiatan atau proyek, sehingga negara bisa mengurangi emisi karbon tersebut.
Menurut catatannya, pengeluaran emisi terbesar sejauh ini masih berasal dari pembangkit listrik. Pada 2020, hampir 280 juta metrik ton emisi karbon diaoksida dihasilkan sektor pembangkit listrik.
"Terus ditambah oleh sektor transportasi. Dari mobil, motor yang sehari-hari kita pakai, dan juga yang paling besar dari bus antar kota, semuanya sekarang ini hampir 100 persen memakai fossil fuel," tuturnya. [Tio]