Memasuki tahap kedua di tahun 2025, PLN ES kembali memperkuat dukungannya melalui bantuan peralatan pengolahan sampah plastik dan gerobak sampah listrik modern, yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperluas cakupan wilayah bank sampah, sehingga ekosistem ramah lingkungan berbasis elektrifikasi lebih dikenal di kabupaten Malang.
Direktur Utama PLN ES, Susiana Mutia, menegaskan bahwa keberhasilan program ini merupakan wujud nyata dari komitmen perusahaan dalam menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
Baca Juga:
Dari Sungai ke Nilai Ekonomi: Transformasi Bank Sampah Kampung Tape Bersama PLN Electricity Services
Direktur Utama PLN ES, Susiana Mutia mengatakan bahwa bantuan ini akan meningkatkan jangkauan nasabah baru sehingga berdampak positif terhadap meningkatnya perekonomian nasabah dan keberlanjutan bank sampah KATA. [WAHANANEWS.CO/PLN ES].
“Kami ingin memastikan bahwa setiap program TJSL yang dijalankan tidak berhenti pada bantuan, tetapi mampu menciptakan perubahan nyata dan berkelanjutan. Transformasi di Bank Sampah Kampung Tape menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberdayakan, sampah dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi yang memberikan manfaat langsung,” ujar Susiana.
Lebih lanjut, Susiana menambahkan bahwa pendekatan berkelanjutan menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang terukur.
Baca Juga:
22 Ribu Lebih Personel PLN Electricity Services Siaga, Amankan Keandalan Kelistrikan Selama Ramadan dan Idul Fitri 2026
“Kami melihat bahwa keberhasilan program ini tidak terlepas dari pendampingan yang konsisten. Oleh karena itu, PLN ES akan terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat agar program ini dapat berkembang dan direplikasi di wilayah lainnya,” tambahnya.
Dampak dari program ini pun terbilang signifikan. Dalam kurun waktu dua tahun, jumlah nasabah Bank Sampah KATA meningkat sebesar 69%, dari 78 orang pada 2023 menjadi 132 orang di tahun 2025. Sementara itu, pendapatan tahunan mengalami lonjakan hingga 312%, dari Rp20,4 juta menjadi Rp84 juta.
Tidak hanya dari sisi ekonomi, nilai jual sampah plastik juga meningkat drastis—dari Rp6.000 menjadi Rp13.000 setelah melalui proses pencacahan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas pengolahan turut mendorong nilai tambah yang lebih tinggi.