Biaya operasional pun dapat ditekan sampai dengan 80 persen dari sebelumnya menggunakan BBM
GM PLN UIW S2JB Bambang Dwiyanto mengatakan Electrifying Agriculture sendiri merupakan program inisiatif PLN untuk menghadirkan listrik sebagai salah satu pilihan sumber tenaga bagi peralatan-peralatan pertanian.
Baca Juga:
Petugas PLN Berjibaku Pulihkan Kelistrikan NTT, ALPERKLINAS: Keselamatan Personel Tetap Harus Jadi Prioritas
Dengan menginvestasikan pembangunan jaringan pada area pertanian yang produktif, diharapkan dapat mendorong para petani untuk dapat meningkatkan pendapatannya melalui sumber energi yang terjangkau dan bebas polusi.
Program Electrifying Agriculture di Desa Peracak ini merupakan salah satu Program Bantuan Tanggung Jawab Sosial & Lingkungan (TJSL) yang merujuk pada Pilar Pembangunan Ekonomi dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) pemerintah.
“Bantuan senilai Rp 102.000.000 ini direalisasikan dalam bentuk peralatan pertanian berbasis elektrik, antara lain pompa air listrik sebanyak 12 unit untuk menggantikan penggunaan pompa air berbahan bakar minyak, peralatan sinar UV untuk optimalisasi fotosintesis tanaman padi, dan peralatan pengusir hama (burung dan tikus) eletronik.
Baca Juga:
PLN Kembangkan PLTA hingga Pumped Storage, ALPERKLINAS: Indonesia Punya Modal Besar Jadi Kekuatan Energi Hijau
Bantuan juga meliputi pemasangan baru (PB) untuk Electrifyng Agriculture sebanyak 10 ID pelanggan,” jelasnya.
Masih menurut Bambang, bantuan tersebut sebagai tahap awal percontohan Electrifyng Agriculture bagi kawasan pertanian produktif lainnya.
Direncanakan,dalam kurun waktu 1-2 tahun ke depan akan dilakukan monitoring dan kajian akan dampak penggunaan peralatan berbasis listrik kepada hasil pertanian.