"Semua hasil menunjukkan tren yang sama, yaitu aktivitas petir berkurang terkait dengan tingkat konsentrasi aerosol yang berkurang," kata Williams.
Dia mengutarakan, ketika negara-negara menerapkan lockdown pada awal pandemi Covid-19, manusia mengeluarkan lebih sedikit aerosol ke atmosfer.
Baca Juga:
BMKG Perkirakan Hujan Ringan Guyur Sebagian Besar Wilayah Indonesia
Produksi di pembangkit listrik yang membakar bahan bakar fosil turun.
Orang-orang juga mengemudi lebih sedikit. Lalu lintas mobil memiliki dampak besar pada produksi aerosol permukaan.
Demikian pula, polusi dari perjalanan udara menurun secara signifikan.
Baca Juga:
BMKG: Dalam Seminggu Bali Disambar 713 Petir
Pengurangan polusi ini, kemungkinan merupakan alasan utama mengapa Williams dan rekan-rekannya mengamati penurunan aktivitas petir, yang mencakup kilat yang menyambar tanah, serta kilat di dalam awan, serta dan kilat di antara awan dan udara.
Salah satu metode peneliti, yang merekam banyak kilatan intracloud (jenis petir yang paling umum), mengukur 19% lebih sedikit kilatan pada Maret 2020 hingga Mei 2020, dibandingkan dengan jumlah rata-rata kilatan petir pada periode tiga bulan yang sama pada tahun 2018, 2019, dan 2021.
"Sembilan belas persen pengurangan merupakan angka yang cukup besar," ujar Williams.